Project B. Powered by Blogger.
Posted by Project B

Welcome to Project .B!

Blog ini berisikan konten-konten informasi dan pengetahuan di dunia engineering,otomotif dan juga dunia penerbangan umum. Semoga Blog ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. Jangan lupa untuk kritik dan sarannya kepada Admin untuk postingan yang lebih baik lagi..... "SALAM SOLIDARITY FOREVER....!!" Kritik dan Saran : Email kharisbhe@gmail.com Instagram @kharisbhe

Popular Post by Project B

Sistem Penggerak Roda Pada Mobil (FF, FR, 4WD/AWD, MR dan RR)

Mobil memiliki beberapa macam sistem penggerak roda dalam sistem pemindah dayanya. Beberapa layout sistem penggerak mobil yaitu FF, FR, RR, MR, dan 4WD/AWD. Lalu apa yang dimaksud dengan FF, FR, RR, MR, dan 4WD/AWD? Berikut ini penjelasannnya.

Popular Post by Project B

"Komponen Bodi Mobil ": (Car Body Component)

Body mobilterdiri dari berbagai macam komponen penting sebagai tempat melekatnya bagian-bagian penting seperti mesin, drivetrain, suspensi dll. Berikut ulasan untuk bagian-bagian yang ada pada body mobil.

Popular Post by Project B

Bagian-Bagian Utama Mobil (Car System Overview)

Sebagai suatu sistem, mobil memiliki bagian-bagian utama yang menyusunnya. Setiap bagian mobil memiliki peran mereka sendiri. Bagian tersebut merupakan suatu sistem utuh yang menyusun dan menyokong setiap fungsi dari kendaraan.

Home » » Mekanisme dan Sistem Kerja Katup Kendaraan Bermotor (How Engine Automotive Valve Works)

Mekanisme dan Sistem Kerja Katup Kendaraan Bermotor (How Engine Automotive Valve Works)

Pada motor 4 langkah (tak), baik motor bensin maupun diesel selalu menggunakan mekanisme katup. Mekanisme katup ini berfungsi untuk mengatur membuka dan menutupnya katup-katup agar dapat bekerja sesuai dengan waktunya. Jenis mekanisme katup dikenal istilah OHV, SOHC, dan DOHC. Pada setiap silinder pada motor 4 tak setidaknya terdiri atas dua katup yang terdiri atas katup masuk dan katup buang. Katup masuk bertugas mengatur pemasukan campuran bahan bakar-udara ke dalam silinder, piring katup dibuat tipis supaya meringankan beban putaran pada poros kam. Sedangkan katup buang mengatur aliran gas sisa-sisa pembakaran keluar dari silinder untuk dibuang ke udara luar, piring katupnya biasanya dibuat tebal daripada katup masuk supaya tahan panas dan tidak mudah berubah bentuk. Katup-katup ini bekerja dalam kondisi yang ekstrem. Pada Motor Diesel tekanan pembakaran 4 – 12 Mpa (40 – 120 bar) dan temperatur gas buang 500 –600oC. Sedangkan pada motor bensin (Otto) tekanan pembakaran 3-6 Mpa (30 – 60 bar) dan temperatur gas buang 700 – 1000oC. Katup harus dibuat dari material yang tahan terhadap kondisi-kondisi tersebut.

Pergerakkan katup ini dibantu oleh pegas katup yang memiliki fungsi untuk menutup kembali pintu masuk bahan bakar tersebut. Katup dan pegas bagaikan pasangan yang sehidup semati, keduanya bekerja berdampingan. Pekerjaan ini semakin berat pada mesin modern 4 silinder yang putaran mesinnya bisa mencapai batas merah 8.000 rpm. Artinya dalam satu detik, pergerakkan buka tutup katup bisa mencapai 33 kali. ((8.000/4)/60 detik = 33,33).

Menurut E. Karyanto (2000: 93), ketentuan dan syarat katup adalah (1). Harus ringan dan mempunyai bentuk kerucut 45o atau 30o pada tempat kedudukan katup (valve seat). (2). Harus kuat dan tahan terhadap panas dan getaran tinggi. (3). Tahan lama dalam pemakaian. (4). Bila katup tertutup, katup harus menempel rapat pada kedudukan katup. Karena itu teknologi bahan baku pegas terus dikembangkan agar mampu bekerja pada beban yang tinggi ini. Bila pegas terlalu lemah karena tidak mampu menekan kembali katup ke posisi semula, maka akan berdampak pada puncak akselerasi yang terlalu dini. Tarikan mobil jadi mengendur, terasa seperti tertahan saat putaran mesin mencapai rpm tinggi. Kondisi ini disebabkan oleh katup yang tidak menutup sempurna dan pasokan bahan bakar pun berlimpah di ruang bakar/combustion chamber.

Untuk mengatasinya pabrikan membuat pegas katup dari bahan magnesium dan titanium. Sebelumnya pegas dibuat dari bahan baja tempa atau forged steel. Namun begitu, tidak semua mesin mobil memerlukan pegas magnesium. Khusus untuk mesin standar pegas baja tempa masih layak pakai karena jarang digeber pada rpm tinggi di atas 8.000 rpm. Pegas magnesium khusus dipakai pada mobil-mobil sport berkecepatan tinggi.

 

Untuk pengembangan metode penggerak katup berorientasi pada kemudahan perawatan dan berkurangnya suara berisik yang ditimbulkan. Pada perkembangannya dikenal dengan beberapa istilah yaitu timing gear, timing chain, dan timing belt.

Selanjutnya, pabrikan mobil yang memproduksi mobil standar kini lebih berkonsentrasi pada teknologi mekanisme buka tutup katup. Di pasaran terdapat beragam penamaan yang dikemas dalam singkatan yang keren, seperti VTEC (Variable Valve Timing and Lift Electronic Controlled) yang dikembangkan Honda. Kemudian ada VVTL-i (Variable Valve Timing Lift-intelligent) milik pabrikan Toyota. Teknologi ini dikembangkan berangkat dari permasalahan bahwa untuk mekanisme katup konvensional panjang langkah katup untuk berbagai putaran mesin tetap dan lama waktu pembukaan katup hanya bergantung pada putaran mesin sehingga berefek pada porosnya bahan bakar dan emisi gas buang yang relatif tinggi.

Disamping itu, turbocharger adalah sebuah kompresor sentrifugal yang mendapat daya dari turbin yang sumber tenaganya berasal dari asap gas buang kendaraan. Biasanya digunakan di mesin pembakaran dalam untuk meningkatkan keluaran tenaga dan efisiensi mesin dengan meningkatkan tekanan udara yang memasuki mesin. Kunci keuntungan dari turbocharger adalah mereka menawarkan sebuah peningkatan yang lumayan banyak dalam tenaga mesin hanya dengan sedikit menambah berat.   

   1. OHV, SOHC, dan DOHC

Ketika pabrikan mobil meluncurkan mobil baru, pada brosurnya selalu tertulis spesifikasi mesin yang digunakan. Umumnya tulisan yang dicantumkan adalah teknologi mesin seperti mesin SOHC, 4 silinder, 8 katup segaris atau DOHC, 4 silinder dan 16 katup.

Antara SOHC dengan DOHC memang memiliki perbedaan konsep yang besar. Kedua istilah  tersebut   berbicara  mengenai   mekanisme  pergerakan   katup.  SOHC merupakan singkatan  dari  Single  OverHead  Camshaft, sedangkan  DOHC  adalah kepanjangan dari Double  OverHead  Camshaft. Terlihat  dari  dari  kedua  singkatan tersebut ada satu kata yang sama yaitu, camshaft atau noken as. Memang pada noken as inilah terletak perbedaan kedua teknologi tersebut.

Camshhaft atau noken as memiliki fungsi untuk membuka tutup katup isap dan katup buang. Katup isap bertugas untuk mengisap campuran bahan bakar udara ke dalam ruang   bakar.   Sebaliknya,   katup   buang   memiliki   tugas   untuk   menyalurkan   sisa pembakaran ke knalpot.

Sebenarnya teknologi mekanisme katup tidak hanya SOHC dan DOHC, tetapi masih ada sistem lain yang disebut OHV (Over Head Valve). Mekanisme kerja katup ini sangat sederhana dan memiliki daya tahan tinggi. Penempatan camshaft-nya berada pada blok silinder yang dibantu valve lifter dan push rod diantara rocker arm.

Mekanisme OHV banyak  dipakai            oleh mesin diesel truk yang hanya membutuhkan torsi. Karena pengembangan teknologinya terbatas, sistem OHV sudah jarang digunakan lagi pada mesin bensin.

Para ahli otomotif terus berpikir untuk menciptakan sistem mekanisme katup baru. Mereka pun beralih ke model OverHead Camshaft (OHC) yang menempatkan noken as di atas kepala silinder. Noken as langsung menggerakkan rocker arm tanpa melalui lifter dan push rod. Camshaft digerakkan oleh poros engkol melalui rantai atau tali penggerak.

< border="0" data-original-height="191" data-original-width="270" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJjt-zvGUoEE1LXSvFanpEOmk-4-hK-Kt2ktYCvfvqQe_VoickctxGuZK65H32iklRvHtrZZ8xs4PaFToejZ0sPMXCU2_Ce4WqxGEGVFThrj2dKbfP9lnOYf8zIRoejW2R5mZ-H5zZHlGw/s0/1.jpg" />
Tipe OHV (Overhead Valve)

Tipe SOHC 

Tipe DOHC (Double OverHead Camshaft) dengan 4 katup dalam 1 silinder 


Tipe  OHC sedikit  lebih  rumit  dibandingkan  dengan  OHV.  Karena  tidak menggunakan lifter dan push rod, bobot bagian yang bergerak menjadi berkurang. Ini membuat kemampuan mesin pada kecepatan tinggi cukup baik karena katup mampu membuka dan menutup lebih presisi pada kecepatan tinggi. OHC yang memakai noken  as tunggal sebagai tempat penyimpanan katup isap dan buang sering disebut sebagai SOHC. Setiap noken as untuk setiap silinder hanya mampu menampung 2 katup, 1 isap, dan 1 buang. Oleh karena itu, mesin yang memiliki 4 silinder pasti hanya bisa memakai 8 katup. 

Keinginan untuk membuat mesin yang lebih bertenaga dibandingkan model SOHC, mendorong lahirnya teknologi DOHC. Mesin DOHC mempunyai suara yang lebih halus dan performa mesin yang lebih baik daripada SOHC karena masing-masing poros pada mesin  DOHC  memiliki  fungsi berbeda untuk  mengatur klep  masuk  dan buang.  Sementara itu,  pada  mesin  SOHC,  satu  poros sekaligus  bertugas  mengatur buka/tutup klep masuk/buang sehingga pembakaran yang terjadi pada mesin DOHC lebih maksimal dan akselerasi mobil bermesin DOHC menjadi lebih baik.

DOHC memakai dua noken as yang ditempatkan pada kepala silinder. Satu untuk menggerakkan katup isap dan satu lagi untuk menjalankan katup buang. Sistem buka

 tutup ini tidak memerlukan rocker arm sehingga proses kerja menjadi lebih presisi lagi pada putaran tinggi.

Konstruksi tipe ini sangat rumit dan memiliki kemampuan yang sangat tinggi dibandingkan dua teknologi lainnya. Mekanisme katup DOHC bisa dibagi menjadi dua model, yaitu single drive belt directly dan noken as intake (isap) yang digerakkan roda gigi.

Pada teknologi pertama, dua noken as digerakkan langsung dengan sebuah sabuk. Sedangkan pada model kedua, hanya salah satu noken as yang disambungkan dengan sabuk. Umumnya adalah bagian roda gigi katup intake. Antara roda gigi intake disambungkan dengan roda gigi exhaust (buang), sehingga katup exhaust akan turut bergerak pula.

Adanya dua batang noken as memungkinkan pabrikan untuk memasangkan teknologi multikatup dan katup variabel pada mesin DOHC. Dalam satu silinder bisa dipasang lebih dari satu katup. Saat ini umumnya pabrikan menggunakan model 2 katup isap dan 2 katup buang, sehingga mesin DOHC yang memiliki 4 silinder bisa memasang 16 katup sekaligus.

2. Metode Penggerak Noken As/Camshaft

Pada mesin 4 langkah mempunyai 4 proses kerja, yaitu langkah isap, kompresi, usaha, dan buang. Tetapi bekerjanya katup hanya membutuhkan katup isap dan buang, karena sisa proses lainnya terjadi di ruang bakar. Mekanime pergerakan katup diatur sedemikian rupa sehingga setiap noken as berputar satu kali untuk menggerakkan katup berputarnya poros engkol sebanyak 2 kali.

Noken as membuka dan menutup katup sesuai  timing  yang telah diprogram. Noken as digerakkan oleh poros engkol dengan beberapa metode, yaitu timing gear, timing chain, dan timing belt. Metode timing gear digunakan pada mekanisme katup jenis mesin OHV yang letak sumbunya di dalam blok silinder. Timing gear umumnya menimbulkan  bunyi  yang besar  dibandingkan  model  rantai  (timing  chain),  sehingga mesin bensin OHV menjadi kurang populer dibandingkan model lainnya.

 


 Berbagai metode pergerakan Camshaft


 

Model  timing  chain  dipakai  untuk  mesin  SOHC  dan  DOHC.  Noken  as digerakkan oleh rantai (timing chain) dan roda gigi sprocket sebagai ganti dari timing gear. Timing chain dan roda gigi sprocket dilumasi dengan oli.

Tegangan rantai diatur oleh chain tensioner. Vibrasi getaran rantai dicegah oleh chain vibration damper. Noken as yang digerakkan rantai hanya sedikit menimbulkan bunyi dibandingkan dengan timing gear, sehingga banyak diadopsi pabrikan.

Teknologi timing belt lahir dari kebutuhan akan mesin yang bersuara senyap. Model sabuk ini tidak menimbulkan bunyi kalau dibandingkan dengan rantai. Selain itu tidak memerlukan pelumasan dan penyetelan tegangan. Kelebihan lainnya adalah belt lebih ringan dibandingkan rantai. Belt penggerak dibuat dari fiberglass yang diperkuat karet sehingga memiliki daya regang yang baik. Belt juga tidak mudah meregang bila terjadi panas. Oleh karena itu, model belt kini banyak dipasang pada mesin modern.

 

3. Pengembangan Teknologi Penggerak Katup

Pada dasarnya sistem pembakaran yang ada pada mobil merupakan hal yang kompleks. Untuk menghasilkan tenaga yang maksimal pada RPM rendah dibutuhkan setting yang berbeda dengan apabila kita ingin menghasilkan tenaga yang maksimal pada RPM tinggi. Hal ini dikarenakan sifat-sifat dari campuran udara dan bahan bakar pada waktu pembakaran. Seberapa besar katup harus dibuka, berapa lama katup harus dibuka, kapan    katup    harus    dibuka    semuanya    berbeda.    Setting-an    RPM    rendah    akan mengakibatkan kinerja mesin saat berada di RPM tinggi terganggu dan tenaga yang dihasilkan menjadi berkurang. sebaliknya setting-an RPM tinggi akan mengakibatkan kinerja mesin yang kurang baik saat berada di RPM rendah dan mesin mengelitik.

Honda dalam pengembangan teknologi mesin otomotif di kawasan Asia bahkan global, terbilang unggul. Teknologi CVCC (compound-vortex controlled combustion), yakni teknologi irit bensin yang diterapkan pada Honda Civic di awal 1970-an, membuat Honda Motor Co. melambung. Pelajaran dari CVCC membawa pabrik mobil tersebut melahirkan variable valve timing and lift electronic control (VTEC) yang pertama kali digunakan tahun 1990 pada Acura NSX, sport car pertama buatan Honda.

 

a.      VTEC


Teknologi ini mampu menghasilkan performa tinggi yang dibutuhkan sport car, namun tetap hemat bahan bakar. Teknologi VTEC ini lalu menjadi terobosan teknologi ramah lingkungan Honda Motor Co. VTEC kemudian diterapkan pada roadster Honda S2000 dan model-model lain.

VTEC merupakan sistem pengkatupan yang sangat fleksibel dimana katup akan terbuka dengan tepat, dengan besar yang tepat, dan untuk jangka waktu yang tepat pada putaran mesin apapun.

VTEC adalah sistem pengkatupan yang dikembangkan oleh Honda untuk meningkatkan efisiensi pembakaran internal 4-stroke. Yang dimaksudkan dengan pembakaran internal 4-stroke adalah pembakaran internal yang dihasilkan oleh gerakan piston dari 0 sampai 180 derajat. Sistem pengkatupan ini pertama kali diciptakan oleh seorang insinyur Honda yang bernama Ikuo Kajitan dan kemudian dikembangkan oleh produsen-produsen mobil lainnya seperti Toyota misalnya dengan apa yang kita kenal sekarang VVT-i.


b. DOHC VTEC

Sistem  mesin  VTEC  pertama  kali  diterapkan  dengan  menggunakan  sistem DOHC (Double OverHead Cam). Sistem DOHC mengunakan dua buah "cam lobe" pada setiap katup dimana yang satu dioptimalkan untuk stabilitas pada putaran mesin rendah dan efisiensi bahan bakar sedangkan yang satu lagi dioptimalkan untuk menghasilkan tenaga yang maksimal pada putaran mesin tinggi. Peralihan diantara dua buah cam lobe tersebut ditentukan oleh tekanan yang dihasilkan oleh oli mesin, temperatur mesin, kecepatan kendaraan, dan kecepatan mesin. Ketika putaran mesin bertambah cepat, tekanan oli akan menekan sebuah pin yang akan mengunci cam putaran mesin tinggi sehingga cam kedua tersebutlah yang akan bekerja.


c. SOHC VTEC

Dikarenakan popularitas dan nilai pasar yang berkembang pesat terhadap sistem VTEC, Honda selanjutnya mengaplikasikan sistem VTEC pada mesin SOHC (Single OverHead Cam). Sistem SOHC ini hanya memiliki satu " cam shaft". Cam shaft ini dipergunakan baik dalam katup masuk (intake valves) maupun katup buang (exhaust valves) Kelemahannya   adalah   bahwa   pada   sistem   seperti   ini,   keuntungan   dari mekanisme VTEC hanya akan didapat pada intake valves. Hal ini disebabkan karena pada mesin SOHC, busi-busi (spark plugs) harus ditempatkan pada sudut yang bebas, sedangkan pada mesin SOHC, busi terletak diantara dua exhaust valves, sehingga mekanisme VTEC pada proses exhaust tidak mungkin dilakukan.

d. SOHC VTEC-E

VTEC-E merupakan pengembangan dari mekanisme VTEC sebelumnya. Agak berbeda, bukan efisiensi pada putaran mesin tinggi  yang ingin dihasilkan melainkan meningkatkan efisiensi pada putaran mesin rendah. Pada putaran mesin rendah, satu dari dua buah katup penerimaan terbuka sedikit sekali sehingga atomisasi dari bahan bakar dan udara di dalam silinder meningkat. Hal tersebut menghasilkan suatu campuran bahan bakar yang lebih sempurna. Ketika putaran mesin meningkat, kedua katup diperlukan untuk menyuplai campuran bahan bakar yang cukup.


e. 3-Stage VTEC

Sistem ini mengaplikasikan SOHC VTEC dan SOHC VTEC-E. Pada kecepatan rendah, hanya satu  katup  penerimaan digunakan.  Pada kecepatan sedang,  dua  katup digunakan. Sedangkan pada kecepatan tinggi, mesin langsung beralih menggunakan mekanisme mesin VTEC standar.


f. i-VTEC

Honda menyempurnakan VTEC dengan menggabungkan VTC (variable timing control), jadilah apa yang disebut i-VTEC (intelligent-variable valve timing & lift electronic  control).  Keunggulan  teknologi  ini,  meningkatkan  daya  pada  kecepatan rendah, menengah dan tinggi. Sekaligus meningkatkan efisiensi bahan bakar dan mengurangi emisi gas buang.

Bagaimana cara kerja i-VTEC? Pasokan bensin ke ruang bakar dilakukan lewat katup masuk yang dikontrol camshaft. Ketika camshaft berputar pada porosnya, tonjolan/nok ini ikut berputar dan memukul rocker arm yang mendorong batang katup sehingga katup terbuka. Ketika tonjolan sudah lewat, katup tertutup lagi.

Honda membuat dua tonjolan cam pada tiap silinder. Tonjolan pertama disebut cam primer dan yang lebih kecil disebut cam sekunder. Pada putaran rendah atau idle/langsam, kedua katup bergerak sendiri-sendiri. Karena cam sekunder lebih kecil maka bukaan katupnya juga kecil. Maka pasokan bahan bakarnya pun sedikit, sesuai kebutuhan saat itu.

Keunikan  teknologi  ini  terlihat  pada  putaran  mesin  2200-2500  rpm.  Sebuah piston pada rocker arm primer mengunci rocker arm sekunder. Gerakan piston ini didorong oleh tekanan oli. Hasilnya, kedua katup bergerak bersama yang dikontrol cam

primer.

Sementara VTC juga bekerja pada cam masuk. Tugasnya menggeser fasa cam maju/mundur maksimal 50 derajad. Akibatnya, bukaan katup masuk, overlap dengan katup buang. Hasilnya, sebagian gas buang yang seharusnya terdorong keluar seluruhnya, terhisap masuk kembali dan dibakar. Inilah yang membuat mesin lebih efisien dan ramah lingkungan.

Bagaimana VTC bekerja? Pergeseran cam dilakukan oleh VTC Actuator yang bekerja sesuai dengan aliran oli yang dikontrol VTC OCV (oil control valve). Oli ini bergerak dari pompa oli. Jika mesin sudah dijalankan, tekanan oli yang dihasilkan pompa oli akan meningkat hingga mencapai level tertentu yang membuat pin lock membuka dan actuator bekerja. Pergeseran maju mundur dikontrol VTC OCV.

Otak dari kerja VTC adalah ECM/PCM atau lebih dikenal sebagai ECU (electronic   control   unit).   Unit   ini   mengkalkulasi   data   dari   sensor-sensor   untuk menentukan apakah OCV harus mengeluarkan perintah mundur atau maju pada actuator. Bila terjadi trouble, misalnya oli tidak bekerja sempurna, CVT tidak akan bekerja, tapi VTEC tetap berfungsi. Teknologi mesin i-VTEC bisa disaksikan pada Honda New CRV dan Honda New Accord.

i-VTEC memperkenalkan fase camshaft yang dapat terus berubah-ubah pada "intake cam" dari mesin DOHC VTEC. Teknologi ini pertama kali diterapkan pada Honda K-series yang menggunakan mesin 4 silinder pada tahun 2001. Pembukaan katup dan durasinya masih terbatas pada profil putaran mesin rendah atau profil putaran mesin tinggi saja.

Perubahan fase camshaft dijalankan oleh gigi-gigi penggerak yang fleksibel yang digerakkan oleh oli dan dikontrol oleh komputer. Fase ditentukan oleh kombinasi dari beban mesin dan RPM. Efek dari hal tersebut adalah optimalisasi dari torsi yang dihasilkan, terutama pada RPM rendah hingga sedang.

i-VTEC itu sendiri dibuat menjadi 2 kategori. i-VTEC yang pertama adalah i- VTEC yang didesain untuk mobil performa tinggi seperti RSX Type S atau TSX. Untuk mobil yang diproduksi untuk digunakan sehari-harinya, mesin i-VTEC performa tinggi dapat ditemukan pada CR-V atau Accord. i-VTEC performa tinggi ini memiliki dasar pengembangan dari DOHC VTEC. i-VTEC kategori kedua adalah yang mengutamakan efisiensi. Perbedaan dari kedua jenis i-VTEC itu sendiri dapat ditentukan dari tenaga yang dihasilkannya.

i-VTEC yang diciptakan untuk mobil performa akan menghasilkan lebih dari 200

HorsePower sebelum mendapat modifikasi apapun sedangkan yang lainnya tidak akan menghasilkan lebih dari 160 HP.

Pada tahun 2004, Honda memperkenalkan i-VTEC V6. Pada mesin V6 ini tidak ada pengaturan fase cam, melainkan adanya teknologi menonaktifkan silinder. Pada kecepatan rendah (dibawah 120km/jam) katup-katup pada satu silinder akan menutup.


g. Advanced VTEC

Pada 25 September 2006 Honda mengumumkan peluncuran mesin Advance VTEC yang akan mulai diproduksi mulai dari 3 tahun ke depan. Mesin baru ini menggabungkan teknologi pembukaan katup yang terus berubah-ubah secara terus- menerus dan pengaturan timing dari perubahan fase yang terus-menerus. Sistem baru ini akan menghasilkan kontrol yang optimal pada pembukaan katup penerimaan dan fase untuk  berbagai  kondisi  mengemudi  serta  meningkatkan torsi  yang  dihasilkan  pada kecepatan mesin apa saja. Dibandingkan dengan mesin 2.4L i-VTEC (CR-V dan Accord), pengembangan ini diklaim akan meningkatkan efisiensi bahan bakar hingga 13%. Honda juga mengklaim bahwa emisi yang dihasilkan oleh mesin ini telah memenuhi standar yang lebih tinggi, emisi yang dihasilkan lebih rendah 75% dari ketentuan batas emisi yang diijinkan pada tahun 2005.


h. Teknologi VVT-i Toyota

Bila  pada  Honda  dikenal  dengan  teknologi  VTEC-nya  maka  untuk  Toyota dikenal  dengan  teknologi  VVT-i.        Dengan  dilatarbelakangi  oleh  semakin  tingginya tingkat permintaan para pengguna kendaraan agar memiliki mobil dengan mesin yang kuat dan bertenaga namun tetap irit bahan bakar dan ramah lingkungan telah menjadi pemicu timbulnya teknologi baru yang dikenal dengan nama Variable Valve Timing- Intelligent atau lebih dikenal dengan sebutan VVT-i.

VVT-i merupakan salah satu aplikasi teknologi informasi pada industri otomotif  hususnya            dalam  hal       penyempurnaan           performa mesin. VVT-i           adalah teknologi pengaturan katup pembakaran yang didasarkan pada putaran mesin dan posisi pedal gas.

Ketika pengemudi memerlukan tenaga lebih besar, maka mekanisme katup akan diatur sedemikian rupa sehingga torsi mesin dapat meningkat. Sebaliknya, ketika hanya dibutuhkan sedikit tenaga mesin, maka mekanisme katup akan diatur sedemikian rupa sehingga bahan bakar yang dipergunakan lebih sedikit dan tentunya gas buang yang dihasilkan lebih bersih.

Perbedaan mendasar yang dimiliki oleh sistem VVT-i adalah perputaran intake cam tidak perlu sama persis dengan perputaran mesin. Pada mobil tanpa sistem VVT-i, intake cam hanya mempunyai satu pola bukaan katup sehingga membuat mesin tidak dapat memaksimalkan tenaga mesin pada saat tenaga besar dibutuhkan dan tidak dapat meminimalkan bahan bakar  yang dipergunakan  ketika tenaga  yang dibutuhkan  tidak besar.

Berdasarkan penjelasan singkat diatas, dapat disimpulkan bahwa teknologi VVT- i sangat membantu pengemudi memperoleh kinerja optimum dari mesin sekaligus menjaganya tetap irit bahan bakar dan lebih ramah lingkungan.

Berikut ini adalah rangkuman dari kinerja sistem VVT-i :

1.           Pembakaran yang stabil dapat diperoleh bahkan pada putaran mesin yang rendah. Dengan  putaran  mesin  yang  rendah  saat  stasioner  (idle)  maka  efisiensi  bahan bakarnya menjadi lebih baik.

2.           Kerugian tenaga mesin dapat dikurangi sehingga efisiensi bahan bakarnya meningkat. Selain itu, hasil gas buangnya pun lebih ramah lingkungan.

Kemampuan  mesin  dapat  dioptimalkan  sehingga  tenaga  yang dihasilkan  dapat maksimal.